Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bhukere, Tradisi Penangkapan Ikan dari Kabupaten Jayapura

bhukere, tradisi penangkapan ikan dari kabupaten jayapura
bhukere, tradisi penangkapan ikan dari kabupaten jayapura

Tradisi penangkapan ikan ternyata masih dilestarikan oleh masyarakat Ayapo Sentani-Timur di Kabupaten Jayapura. Papua menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang masih melestarikan banyak kebudayaan dan tradisi dari nenek moyang dahulu, meskipun sekarang teknologi semakin canggih dan zaman semakin modern, tapi mereka masih melestarikan kebudayaan.

Biasanya, kita hanya melihat tradisi berupa tarian, nyanyian atau pemakaman di masyarakat Papua. Tapi, ternyata masih banyak tradisi atau budaya yang dikaitkan dengan aktivitas lain yang dilakukan sehari-hari, termasuk dalam melakukan pekerjaan atau mencari makanan. Misalnya saja saat masyarakat Jayapura ini menangkap ikan di sungai.

Seperti yang kita tahu, alam di Indonesia bukan hanya terlihat indah dan asri, tapi juga menyuguhkan berbagai sumber daya alam yang melimpah. Sumber daya alam tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan sehari-hari atau bisa juga dijual agar lebih menghasilkan, termasuk sungai untuk mencari ikan.

Anda akan menjumpai banyak sungai yang masih terjaga dan murni di Kabupaten Jayapura. Di situlah masyarakat sekitar bisa mencari ikan untuk dimakan atau dijual. Namun, mencari ikan tidak hanya dilakukan begitu saja, melainkan akan dilakukan sesuai tradisi penangkapan ikan yang masih diyakini oleh masyarakat sekitar.

Tradisi Bhukere di Jayapura Papua

Masyarakat Ayapo Sentani-Timur di Kabupaten Jayapura masih memiliki tradisi yang dilakukan hingga sekarang, tradisi tersebut bernama Bhukere atau Sero-sero. Bhukere ternyata sebutan untuk alat tradisional yang digunakan masyarakat Jayapura untuk menangkap ikan. Seperti yang Anda tahu dalam menangkap ikan dibutuhkan alat khusus untuk mempermudahnya.

Tradisi penangkapan ikan ini menggunakan Bhukere, alat tradisional yang terbuat dari kayu pilihan dan berkualitas, seperti kayu olulu dan suang. Masyarakat setempat mendapatkan kayu tersebut di perkebunan atau lahan masyarakat karena di sana masih banyak wilayah perhutanan yang masih alami sehingga mudah mendapatkan kayu.

Kayu yang dipilih dalam pembuatan Bhukere memiliki kualitas terbaik sehingga lebih tahan lama dan bisa digunakan beberapa kali. Namun, pembuatan Bhukere memiliki aturan tersendiri yang harus ditaati oleh semua orang terkait. Misalnya saja orang yang membuat Bhukere, tidak boleh sembarang orang membuatnya.

Biasanya, Bhukere untuk tradisi penangkapan ikan ini dibuat oleh masyarakat, kepala suku, dan Indiafi di wilayah hak ulayat yang dimiliki jadi tidak bisa disembarang tempat. Selain itu, masih ada tradisi atau ritual lain yang harus dilakukan selama proses penangkapan ikan karena setiap tradisi mengandung makna tertentu.

Baca Juga: Tempat festival, pantai Khalkote Sentani yang indah

Pembuatan Alat Penangkap Ikan

Masyarakat Ayapi memiliki keterampilan dan teknis khusus dalam pembuatan Bhukere agar bisa menangkap lebih banyak ikan. Mungkin Anda bertanya-tanya, dari mana asal keterampilan tersebut? Masyarakat Ayapo memang dikenal dengan keterampilan membangun atau menciptakan suatu benda, misalnya saja membuat sendiri rumah masyarakat adat yang ditempati.

Sebelum melakukan pembuatan Bhukere, masyarakat Ayapo harus melakukan survei tempat terlebih dahulu. Survei tempat ini bertujuan agar mereka tahu di mana tempat yang paling banyak terdapat ikannya. Dengan begitu, diharapkan tradisi penangkapan ikan ini mampu membawa hasil yang memuaskan.

Pembuatan Bhukere biasanya dilakukan secara berkelompok karena akan sulit jika dilakukan sendiri-sendiri. Bisa dilakukan oleh tiga orang, tapi juga bisa dalam jumlah yang lebih banyak, yaitu sepuluh orang. Tradisi ini memiliki makna bahwa dalam kehidupan kita harus saling tolong menolong agar kebutuhan dapat terpenuhi.

Proses pembuatan Bhukere diawali dengan mencari kayu terbaik yang dibutuhkan. Selanjutnya, kayu tersebut dipotong membentuk pagar melingkar. Setelah perlengkapan sudah selesai dibuat, taruh dahan dan ranting di sekitar Bhukere untuk memanggil ikan agar berdatangan. Lalu, Anda tinggal menunggu ikan datang menghampiri Bhukere tersebut.

Isyarat Alam untuk Melakukan Bhukere

Sekarang ini, setelah membuat Bhukere mungkin langsung dilakukan penangkapan di sungai-sungai terdekat. Berbeda dengan zaman dulu yang dilakukan ritual khusus terlebih dahulu agar ikan yang didapatkan lebih banyak dan melimpah. Ritual khusus memanggil ikan ini tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, melainkan orang khusus.

Orang khusus tersebut memiliki keahlian yang dipatenkan oleh marga atau masyarakat di komunitas adat sehingga merupakan orang penting, berperan atau tokoh dari masyarakat tersebut. Kemampuan mendatangkan ikan ini disebut dengan istilah Kabulo, namun sudah mulai ditinggalkan pada tradisi penangkapan ikan sekarang ini.

Selain dilakukan ritual sebelum penangkapan ikan menggunakan Bhukere, dilakukan juga pantangan bagi si pemanggil ikan, yaitu tidak makan jenis ikan tertentu yang dilarang. Semua tradisi dan tahapan ini dilakukan sesuai ketentuan adat yang sudah diwariskan secara turun temurun dari nenek moyangnya.

Waktu penangkapan ikan tidak dilakukan di sembarang waktu, melainkan ada isyarat alam yang muncul sebagai waktu yang tepat untuk menangkap ikan. Isyarat alam tersebut antara lain daun-daun tumbuhan sekitar yang bersemi, perjalanan matahari ke arah selatan hingga banyaknya ikan hew (ikan asli danau Sentani).

Tradisi Bhukere yang masih dilestarikan sampai sekarang menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai sosial budaya memang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Indonesia, khususnya bagi masyarakat adat Ayapo di Papua. Tradisi penangkapan ikan ini juga menjadi bukti bahwa alam telah menyuguhkan sumber daya alam yang melimpah.


Post a Comment for "Bhukere, Tradisi Penangkapan Ikan dari Kabupaten Jayapura"

Berlangganan via Email