Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Akonipuk, Tradisi Pengawetan Jenazah dari Masyarakat Papua

tradisi pengawetan jenazah
tradisi pengawetan jenazah di masyarkat suku dani papua

Tradisi pengawetan jenazah bisa kita jumpai di beberapa wilayah di Indonesia, salah satunya adalah Papua. Seperti yang kita tahu bahwa masih banyak kebudayaan di Papua yang masih dilestarikan sampai sekarang, termasuk dalam mengurus jenazah. Itulah mengapa menarik bagi kita untuk mengenal lebih dalam tentang tradisinya.

Tradisi tersebut menjadi daya tarik tersendiri yang dimiliki Papua untuk meningkatkan minat para wisatawan berkunjung ke Tempat yang masih melestarikan budaya nenek moyangnya ini. Di Papua, Anda akan menemukan banyak kebudayaan yang terkadang masih asing tapi justru inilah yang membuat kita tertarik ingin mempelajarinya.

Dari banyaknya kebudayaan yang dimiliki Papua, kali ini kami akan membahas tentang tradisi pengawetan jenazah yang selama ini masih di lakukan oleh masyarakat Papua yang berada di sekitaran lembah Baliem. Sebagian besar dari kita mungkin lebih familiar dengan pemakaman atau kremasi sebagai cara untuk memperlakukan jenazah, sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya masing-masing.

Masyarakat Wamena atau Baliem ternyata juga punya tradisi tersendiri bagaimana cara memperlakukan jenazah, yaitu dengan cara diawetkan. Budaya ini mungkin asing bagi Anda yang tinggal di luar Papua jadi lebih menarik untuk di ulas bersama. Kali ini, kami akan membahas tentang tradisi di Papua yang bernama Akonipuk.

Mengenal Tentang Tradisi Akonipuk

Akonipuk merupakan nama atau istilah dari tradisi pengawetan jenazah yang di lakukan oleh masyarakat Papua. Bukan hanya Papua di Indonesia, masyarakat di negara Papua Nugini juga masih banyak yang melakukan tradisi ini. Suku Dani yang berada di kawasan Lembah Baliem menjadi masyarakat yang masih melestarikannya.

Menurut Bahasa Hubula, akonipuk punya arti mumifikasi atau pembuatan mumi. Proses mumifikasi di awali dengan mengeringkan jasad manusia yang sudah meninggal agar bisa awet. Anda mungkin sudah pernah mendengar proses mumifikasi di belahan dunia lainnya, tapi teknik yang digunakan di Papua ini berbeda dengan lainnya.

Jika di Mesir, penggunaan balsam lebih banyak maka berbeda dengan mumifikasi di Papua yang menggunakan teknik pengasapan. Jadi, nantinya setelah jasad dikeringkan selanjutnya akan dilakukan proses pengasapan. Teknik ini hanya bisa Anda jumpai di Papua khususnya di bagian daerah wamena sehingga sangat menarik untuk di pelajari lebih lanjut tradisinya.

Terdapat dua wilayah di Indonesia yang masih melakukan tradisi pembuatan mumi sampai sekarang. Yaitu Mumi Suku Hubula di Papua dan Mumi Kaki More di NTT. Keduanya punya cirri khas tersendiri dalam memperlakukan jenazah, begitu juga dengan teknik yang di gunakan oleh masyarakat Papua saat melakukantradisi.

Baca Juga: mengenal keunikan atribut pakaian adat Suku Kimyal

Makna yang Terkandung dalam Akonipuk

Setiap tradisi di Indonesia pasti punya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, termasuk tradisi pengawetan jenazah di Papua. Akonipuk punya makna tersendiri bagi mereka yang masih melestarikannya, misalnya saja bagi Suku Hubula di Lembah Baliem. Nilai utama dari tradisi ini berkaitan dengan religiusitas dan spiritualitas.

Bukan hanya itu, Anda juga bisa menemukan nilai sejarah pada tradisi pembuatan mumi pada jenazah. Pasalnya, tidak sembarang orang bisa di mumifikasi karena hanya mereka yang pantas atau untuk para tokoh, seperti pemimpin spiritual, panglima perang, kepala suku dan orang yang berpengaruh di Lembah Baliem.

Tradisi pengawetan jenazah ini juga mengandung nilai sosial dimana hubungan antar-suku di Lembah Baliem harus terjaga dengan baik. Semasa hidupnya, sebagian besar para tokoh punya relasi yang baik dengan masyarakat dan tokoh lainnya. Sehingga proses akonipuk juga di hadiri oleh perwakilan suku-suku lainnya.

Akonipuk juga punya tujuan lain, yaitu menjaga keabadian sang tokoh. Meskipun tokoh tersebut sudah meninggal, tapi secara fisik sang tokoh tidak hilang dan masih berada dekat dengan suku-suku tersebut. Masyarakat Lembah Baliem percaya bahwa mumi-mumi akonipuk mampu menjaga keharmonisan alam dan desa yang di tinggalinya.

Proses Pelaksanaan Akonipuk

Setelah memahami apa itu akonipuk dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, pasti Anda sudah tidak sabar mengetahui bagaimana proses pelaksanaan tradisi pengawetan jenazah di Papua. Tradisi ini dilakukan dengan sangat sacral karena bukan sekadar tradisi biasa, tapi mengandung nilai-nilai penting bagi masyarakat di Lembah Baliem.

Pertama, harus di persiapkan alat dan bahan yang di perlukan selama proses pengawetan, misalnya saja sage (tombak berukuran kecil), kayu akasia dan pisau tulang.

Wanita dan anak-anak tidak diizinkan masuk ketempat prosesi karena hanya pria dewasa yang akan melakukan proses akonipuk ini.

Jenazah tokoh akan di bawa kedalam honai laki-laki kemudian diikat ke kayu dengan posisi berjongkok. Berikutnya, jenazah akan ditempatkan di atas bara api dan masuk dalam proses pengasapan. Biasanya, waktu yang di butuhkan dalam melakukan tradisi ini sampai jenazah benar-benar kering adalah tiga bulan.

Selama proses ini belum selesai, semua pria yang terlibat di dalamnya tidak boleh mandi atau mencuci diri. Apabila proses pengeringan sudah selesai, jenazah kemudian akan di bawa ke tempat yang tinggi dan menghadap kepemukiman.

Setiap tradisi yang ada di Papua punya daya tarik tersendiri untuk dipelajari, termasuk tradisi akonipuk ini. Sampai sekarang, masyarakat Lembah Baliem kadang-kadang melakukan tradisi ini apabila ada tokoh atau orang penting yang meninggal. Oleh karena itu, tradisi pengawetan jenazah ini bisa kita kenal sampai sekarang.

Post a Comment for "Akonipuk, Tradisi Pengawetan Jenazah dari Masyarakat Papua"

Berlangganan via Email