Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Di Minta Kawin Paksa oleh Orangtua

Cerita rakyat ini berasal dari masyarakat suku Mee tentang "kawin paksa", ini bukanlah kisah nyata hanya cerita rakyat yang biasanya di ceritakan orangtua kepada anak-anak mereka ketika sedang bersantai jadi jangan di tanggapi serius tapi anda dapat belajar maknanya dari cerita rakyat "di minta kawin paksa oleh orangtua".

 Ilustrasi Foto Kampung Cewe di Minta Kawin Paksa

Hiduplah sekelompok masyarakat di sebuah kampung, di tempat itu juga tinggallah sebuah pasangan suami istri yang hanya punya anak seorang gadis tunggal yang cantik.

Pada suatu hari seorang pemuda tertarik kepada gadis tersebut sehingga mereka saling berkenalan,  gadis itupun memberitahukan kepada orangtuanya bila ia berpacaran dengan seorang Pemuda dan ingin menjadikannya sebagai suami.

Setiap kali pemuda itu berburu hasil buruannya, ia selalu bawa kepada gadis itu dan kedua orangtua namun orangtua dari gadis itu tidak mau makan sebagai wujud ketidak setujuan anak gadis mereka dengan pemuda itu.

Pada suatu  hari orangtua meminta gadis itu untuk mempersiapkan barang-barang seperti bekal petatas, keladi dan lainnya untuk melakukan perjalanan jauh. Karena orangtuanya tidak setuju bila berada di kampung ini anak mereka menjadi istri dari pemuda yang tidak di setujui mereka.

Anak perempuan itu tidak melakukan apa yang di sampaikan oleh kedua orangtuanya karena mengetahui maksud dari orangtua untuk mengagalkan keinginan hatinya yang sudah terlanjut mencintai pemuda di kampung itu.

Kedua orangtuanya pun memukul anak itu karena tidak melakukan apa yang di suruh mereka, namun setelah beberapa jam pada sore hari anak perempuan itupun melakukan apa yang di perintahkan oleh kedua orangtuanya

Sepanjang malam anak pemudi itu tidak tidur baik karena memikirkan hubungannya dengan calon suaminya akan putus.

Pada keesokan paginya mereka bertiga melakukan perjalanan jauh, mendaki gunung dan menuruni lembah. Pada siang hari merekapun menjadi lelah sehingga beristirahat di bawah sebuah pohon rimbung yang besar sambil makan petatas dan bekal lain yang di bawa dari rumah.

Saat itu anak perempuan mereka tidak berani menyampaikan apa yang sebenarnya di ingin olehnya sehingga ia mengunkapkan perasaannya dalam bentuk gowai (gowai adalah kata-kata tapi bentuk lagu yang biasanya di nyanyikan oleh masyrakat di kalangan suku Mee untuk ungkapkan isi hati mereka).

Adapun gowai yang di nyanyian oleh anak perempuan itu kepada orangtuanya ialah:

“kenapa orang seperti saya tidak di setujui oleh orangtua ku untuk memilih keinginan hatinya, itulah bodohnya kalian mematahkan tunas bambu yang ingin bertumbuh ”

Maksud dari gowai tersebut untuk menunjukkan kalau dia benar-benar tidak ada keinginan untuk mengikuti keinginan orangtuanya. Walaupun orangtuanya mengerti dengan apa yang di maksud oleh anak mereka dengan gowai yang di nyanyikan, mereka abaikan  begitu saja.

Merekapun melanjutkan perjalanan melewati sungai dan hutan belantara, hingga tiba di sebuah rumah yang tiada ada orangnya  walaupun demikian mereka bertiga masuk ke rumah tersebut.

Beberapa jam kemudian datang juga orang  yang punya rumah itu dari kebun dengan membawa buah dan sayuran yang di ambil disana. Ternyata pemilik rumah itu adalah seorangtua yang tinggal seorang diri namun memiliki harga banyak.

Orangtua itupun membagikan hasil tanaman yang di bawah dari kebun kepada tiga orang yang baru datang itu namun anak perempuan itu tidak menerima dan tidak makan.

Setelah berlalu beberapa hari anak perempuan itupun tinggal di rumah ini dengan tidak bahagia karena telah mengetahui bila orangtua yang tinggal sendiri di tempat ini yang akan menjadi suaminya.

Seminggu kemudian setelah kedua orangtua dari anak perempuan itu dan orangtua yang tinggal sendiri di rumah ini menyepakati harga mas kawin. si tua yang akan menjadi suaminya dari gadis itu menyerahkan mas kawin berupa “mege”  kepada  kedua orangtua itu.


Baca Cerita rakyat lainnya: Kisah Kelelawar Menolong Manusia


Gadis itupun menjadi istri dari orangtua yang tinggal sendiri di hutan berantara itu, sesudah kedua orangtua itu menerima mas kawin “mege” itu, kemudian kedua orantuanya pun kembali ke kampung halaman mereka yang harus di tempuh berhari-hari untuk sampai disana.

Anak perempuan itu sangat-sangat marah dan sedih sekali dengan tindakan kedua orangtuanya yang telah meminta kawin paksa dengan orang yang tidak di senanginya.

Sesudah kedua orangtuanya pulang ke rumah mereka, gadis itupun naik ke atas sebuah batu tinggi dan menjatuhkan diri ke bawah dan meninggal.

Orangtuanya tidak mengetahui hal tersebut hingga si orangtua yang ingin jadi suaminya itu memberitahukan kepada mereka apa yang telah di lakukan oleh anak mereka.

Mendengar hal itu kedua orangtuanya sangat sedih dan menyesal semua tindakan yang telah mereka lakukan terhadap anak mereka. Walaupun demikian semuanya telah berlanjut sehingga mereka menerima semua yang telah terjadi dan menjadikan sebagai pelajaran.

 

Itu adalah Cerita rakyat singkat kawin paksa semoga kalian mendapat hikmah dari cerita rakyat ini yang dapat menjadi pelajaran hidup.

Post a Comment for "Di Minta Kawin Paksa oleh Orangtua"

Berlangganan via Email