Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Manusia Berubah Menjadi Burung Nuri

Ulasan di bawah adalah cerita rakyat masyarakat dari masyarakat suku Mee


Pada  suatu hari hiduplah dua orang laki-laki yang beradik kaka, makanan harian mereka adalah petatas, keladi dan daging burung.

Tempat yang tidak begitu jauh dari rumah mereka terdapat sebuah pohon yang namanya aga, pohon tersebut tumbuh di pinggirang rumah yang agak rawa-rawa serta berair, suatu ketika pohon itu berbunga sehingga banyak burung-burung datang hinggap, melihat keadaan ini saudara beradik-kaka itu mendirikan sebuah kemah kecil di atas pohon aga itu.

Gambar ilustrasi sebuah kampung

Pada keesokan hari sebelum matahari terbit kakanya memanjat pohon tersebut dan berdiam dalam kemah yang telah di buat sambil menunggu burung-burung datang, adiknya berada di bawah pohon tersebut untuk menjaga burung yang akan jatuh ketika di panah oleh kakanya.

Tidak lama kemudian burung-burung beterbangan di sekitar bunga pohon aga tersebut jadi kakanya mulai panah satu per satu hingga banyak.

beberapa jama kemudian adiknya yang sudah tidak betah lagi tinggal di tempat itu mengajak pulang namun kakanya menolak karena lebih banyak burung yang berdatangan ke pohon tersebut.

Tidak lama kemudian sebentara mereka berdua masih berada di pohon tersebut datanglah beberapa orang yang jumlahnya kira-kira 20 orang, melihat orang-orang itu adiknya segera bersembunyi di antara pohon-pohon dan kakanya masih berada di atas pohon.

Rombongan orang yang datang itu mendekati pohon itu dan tanpa berbicara banyak mereka memanah kakanya yang berada di atas pohon itu kemudian orang-orang itu menghilang seketika, kemudian adiknya itu mendekat ke kakanya dan melihat dia sudah tidak bernyawa sehingga adiknya itu menanggis sambil memeluk kakanya yang berlumuran darah akibat panah.

Beberapa jam setelah menangis ia berbalik kearah rawa-rawa yang berair kemudian ia melihat air-air itu mulai bergerak dan arwah dari kakanya itu berbicara dalam air tersebut “jika suatu saat kamu membalas katakanlah kaka ku yang berada dalam air maka aku akan datang” usai mengatakan demikian suara itu menghilang dan airnya menjadi tenang.

Adiknya itu pulang seorang diri kerumah dalam kesunyiannya itu, ia berduka seorang diri selama tujuh hari tanpa di temani orang-orang.

Pada suatu hari pemuda itu ingin berjalan jauh jadi ia menyiapkan bekal dan barang-barang yang perlu di bawa kemudian Ia melakukan perjalanan jauh kira-kira 3 hari dalam perjalanan pada hari keempat ia melihat ada sebuah rumah jadi ia masuk ke rumah tersebut dan ketika memandang ke dalam rumah itu ada 6 busur panah dengan melihat itu ia mengetahui bila ada enam orang yang tinggal di rumah tersebut.

Setelah beberapa jam muncullah enam orang yang tinggal di rumah tersebut kemudian mereka saling salaman dan memperkenalkan diri tidak lama kemudian pemuda yang baru datang dari jauh itu tidur karena perjalanannya yang panjang yang membuat dia lelah karena  belum tidur.

Mereka mulai menjadi akrab dengan berjalannya waktu karena pemuda yang baru datang itu selalu melakukan setiap aktivitas bersama mereka.

Pada suatu hari ia menceritakan kejadian yang pernah di alami oleh kakanya itu kemudian keenam teman lainnya itu menjadi sangat marah dan mengatakan kepada pemuda itu "kenapa tidak pernah menceritakan kisah ini sebelumnya agar kita dapat melakukan pembalasan".

Mendengar semua kisah yang di alami oleh pemuda itu kaka sulung dari 6 orang itu mengatakan kepada lainnya agar mempersiapkan diri untuk melakukan pembalasan sehingga mereka semua bersiap diri selama tujuh hari untuk melakukan pembalasan ke kampung yang pernah membunuh kaka dari pemuda yang baru datang tersebut.

Ketika tiba harinya untuk melakukan penyerangan, masing-masing dari mereka mengosokkan bulu burung Nuri pada tubuh mereka dan seketika itu juga mereka berubah menjadi burung nuri, setelah itu ketujuh pemuda yang telah berubah menjadi burung itu terbang ke kampung yang mereka ingin melakukan penyerangan denga membawa perlengkapan busur dan panah.

Hari itu orang-orang yang berada di kampung tersebut sedang sibuk mengerjakan kebun, mengurus ternak dan kegiatan lainnya. Ketika ketujuh burung itu telah berada di atas kampung tersebut  mereka memanah kebawa orang-orang yang berada di kampung tersebut walaupung orang-orang di kampung tersebut memanah balik namun tidak kena mereka karena setiap kali orang dari kampung itu memanah pemuda yang kakanya di tembak itu selalu mengatakan “kaka ku yang berada dalam air” seperti yang pernah di katakana arwah kakanya.

Ketujuh burung nuri itu membunuh ratusan orang dari kampung tersebut pada hari itu kemudian mereka balik ke rumah seketika sampai ketujuh burung itu kembali menjadi manusia lagi.

Pada hari kemudian mereka ingin melakukan penyerangan lagi sehingga mereka membicarakan hal-hal yang harus di lakukan dalam penyerangan dan pada akhirnya mereka memutuskan untuk tetap dengan strategi yang sama dengan menjadi burung.

Pada hari yang kedua mereka berhasil membunuh semua laki-laki dari penduduk kampung tersebut dan membiarkan beberapa perempuan untuk tetap hidup dan perempuan-perempuan yang hidup itu di bawa pulang ke rumah oleh ketujuh pemuda yang berubah menjadi burung Nuri itu.

Ketika tiba di rumah perempuan-perempuan yang di bawa dari kampung lain itu menjadi istri-istri dari para pemuda itu sehingga kampung-kampung yang telah mereka taklukkan itu di kuasai oleh ketujuh pemuda itu dan anak cucunya membuat kebun di daerah-daerah tersebut. 

Post a Comment for "Manusia Berubah Menjadi Burung Nuri"

Berlangganan via Email