Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Penguasa Gunung Bobaigo

Tampak gunung Bobaigo di pinggir Danau Paniai. Photo by. Flora Pakage

Pada suatu hari hiduplah tujuh orang beradik kaka di sekitaran danau Paniai, mereka berencana menjaring ikan dan udang di danau sehingga sebelum pergi ke danau mereka mempersiapkan kayu bakar di dalam sebuah gua batu di sekitaran gunung Bobaigo sebelum petang.

Hari pun mejadi malam sehingga mereka semua mempersiapkan diri minum dan makan untuk pergi ke danau namun  mereka meningalkan adik bungsu “Amadi” (dalam bahasa Mee untuk cewe yang bungsu)  di dalam gua itu dengan menyuruh ia agar menjaga noken dan barang-barang yang di tinggalkan saudari-saudari nya yang lebih tua.

Dalam keadaan gelap dengan di temani tungku api kecil dia (amadi) menunggu kakak-kakak nya yang pergi ke danau untuk menjaring, tidak lama kemudian terdengarlah suara para laki-laki dari arah danau Paniai, mendengarkan suara segerombolang itu amadi menjadi takut dan bersembunyi di ujung goa yang lebih gelap sambil menyembunyikan semua barang-barang milik kakak-kakaknya dan menghiasi dirinya dengan manik-manik yang mereka bawa yang terbuat dari jenis buah yang tumbuh di sekitar daerah Paniai yang jika di gesek akan goyang maka akan menghasilkan bunyi-bunyian sentakan manik-manik itu.



Rombongan laki-laki itu pun tiba dalam gua batu itu dengan membawa seekor babi hasil buruang kemudian mempersiapkan segala peralatan untuk masak hasil buruang itu, sementara amadi masih berada dalam ujung gua tersebut sambil menyaksikan para pemuda itu.

Tidak lama kemudian amadi yang telah menghiasai dirinya dengan manik-manik datang kearah mereka sambil melompat-melompat dengan bunyi-bunyian manik-manik yang telah di lingkarkan di badannya sambil mengatakan:
“akulah penguasa Bobaigo, akulah penguasa gua batu, akulah penguasa air danau, akulah penguasa danau Paniai”.

Seketika mendengar dan melihat penampilan gadis tersebut rombongan laki-laki yang sedang keasikan masak babi itu segera menghilang dari tempat itu dan berlari kearah perahu yang telah mereka sandarkan di pinggir danau, sebentara mereka turung dari gua batu itu ada yang cedera dan luka Karena dalam keadaan panik dan takut serta melupakan barang-barang yang telah di bawa ke dalam gua.

Kemudian si Amadi dengan langkah perlahan menengok keluar untuk memastikan jika benar-benar para pemuda itu telah pergi dan betul mereka semua telah menghilang kemudian dengan nafas legah si cewe itupun menguasai gua itu serta barang-barang yang di tinggalkan para laki-laki itu.

Keesokkan pagi keenam kakanya yang pergi menjaring itupun pulang dengan membawa hasil danau seperti udang, ikan dan lainnya sehingga si Amadi menceritakan semua peristiwa yang terjadi sepanjang malam sambil menunjukkan babi dan barang-barang yang di tinggalkan para pemuda itu dengan nada dan wajah yang terlihat gembira akhirnya mereka bertujuh menjerah dan menikmati semua barang-barang yang di tinggalkan orang-orang tersebut.

Beberapa tahun kemudian si Amadi di lamar oleh seorang pemuda jadi ia pun menerima lamaran tersebut sehingga si Amadi menjadi istri dari laki-lakit tersebut dan mereka menjalani hidup sebagai keluarga yang bahagia.

Pada suatu hari di akanlah kegiatan keluarga sehingga mereka berkumpul bersama-sama dalam kumpulan yang besar dimana saat itu si Amadi dan suaminya juga ikut hadir. Untuk mengisi waktu luang sambil saling menghibur satu sama lainnya, mereka masing-masing menceritakan kisah hidup yang pernah mereka lalui sehingga kini gilirang suami si Amadi menceritakan kisah yang ia tidak pernah lupakan dengan mengatakan: “dulu kami enam orang membawa seekor babi besar pergi ke gua bobaigo kemudian saat kami sedang mau masak tiba-tiba penjaga gunung bobaigo keluar dan mengejar kami dengan mengatakan “akulah penguasa Bobaigo, akulah penguasa gua batu, akulah penguasa air danau, akulah penguasa danau Paniai”  sehingga kami semua takut dan lari kearah perahu dan pulang dengan meninggalkan busur, panah, babi dan barang lainnya yang kami bawa ke dalam gua bogaigo dan saya terkena lupa pada saat itu (sambil menunjukkan bekas lukanya)” mendengar kisah suaminya si Amadi tersenyum saja.

Kini gilirang Amadi menceritakan sebuah pengalaman kisah hidup yang pernah ia lalui:
“dulu saya bersama keenam kaka kami pergi ke danau Paniai untuk menjaring namun saya di tugaskan untuk menjaga barang-barang mereka sehingga saya tinggal dalam gua bobaigo saja, beberapa jam kemudian malam itu saya mendengar suara serombangan laki-laki datang ke gua jadi saya masuk ke ujung gua yang sangat gelap dan menghiasi diri dengan manik-manik  di seluruh tubuh, setelah rombongan laki-laki itu mau masak saya melompat keluar dari persembunyian sambil mengatakan: “ akulah penguasa Bobaigo, akulah penguasa gua batu, akulah penguasa air danau, akulah penguasa danau Paniai”. Waktu itu mendengar perkataan saya itu para laki-laki itupun terpencar keluar kearah perahu untuk pulang dan kami menikmati barang-barang yang mereka tinggalkan itu”

Usai dari ceritanya itu si suamipun menyadari bahwa istrinya yang pernah kerjain mereka sebelum mereka menjadi suami istri sehingga ia menjadi malu bercampur emosi sebab ia yang terkena luka ulah peristiwa itu, dengan demikian suaminya sangat marah dan ingin mencoba pukul istrinya namun ia menyadari bahwa itu hanya cerita lama yang tidak perlu di ungkit lagi jadi ia hanya membiarkan emosinya terkontrol kembali.

Selanjutnya kehidupan keluarga Amadi ini hidup bahagia bersama-sama dengan anak-anak mereka.
 


Sumber;
buku "Kajian Cerita Rakyat Suku Mee"
Oleh: Natalis Pakage & Titus Pekei

2 comments for "Penguasa Gunung Bobaigo"

  1. makasih atas informasinya.

    kunjungi juga blog kami di :

    https://akupecintaakuntansi.blogspot.com/

    ReplyDelete

Berlangganan via Email